Rabu, 06 Agustus 2014

Desa Tenganan Manggis Karangasem Bali

   
 Obyek wisata TengananMerupakan salah satu objek wisata yang saya rekomendasikan buat kalian semua yang mau liburan ke bali. Karena Di tengah  meluasnya industri pariwisata dan gempuran modernisasi, masyarakat Tenganan juga disebut-sebut sebagai Bali Aga atau penduduk asli, memang sejarahnya keberadaan desa ini sudah ada sebelum invansi kerajaan majapahit, desa-desa seperti ini tidak terlalu banyak mendapat pengaruh luar, dengan konsisten serta secara turun temurun tetap mempertahankan awig-awig (aturan) mereka, diwariskan secara turun temurun oleh leluhurnya, rumah adat tetap dipertahankan seperti aslinya sehingga tetap kelihatan eksotik dan unik.
     Ingin mengetahui desa tua masih mempertahankan tradisi disaat kehidupan modern memang agak langka, jika anda liburan dan tour mengambil jurusan wilayah timur pulau Bali kunjungi desa terbilang unik dan berbeda ini, atau anda bisa sewa mobil, menginap sehari di kawasan objek Candidasa adalah pilihan menarik juga, karena dari sini Tenganan tidak begitu jauh, bahkan bisa eksplorasi ke luar mengunjungi tempat menarik lainnya.
       Desa wisata Tenganan pegringsingan diapit oleh dua bukit, Pemukiman di desa ini berpetak-petak lurus dari utara ke selatan, luas pekarangan diatur dalam luas yang sama, terlihat persamaan hak diterapkan kepada seluruh penduduk. Sehingga desa ini betul-betul unik, begitu juga dalam bentuk bangunan dan pengaturan rumah penduduk di buat berderet-deret dengan berujung di sebuah pura desa tua, memang betul-betul tampil beda serta bisa terbilang fantastis dibandingkan model perkampungan lainnya. Aktivitas keseharian warga Tenganan Pegringsingan yakni bertani atau pun menekuni usaha kerajinan. Saat akan mulai liburan, banyak sekolah-sekolah mengikutkan jadwal tamasya/ tour ke sini.



      Salah satu atraksi atau ritual paling unik di Bali dan hanya ada di Tenganan adalah ritual Geret, Perang Pandan, atau biasa disebut mekare-kare, perayaanya tiba pada sasih / bulan kalima, di mana para pemuda desa itu menggelar pertarungan damai dengan menggunakan seikat pandan. Dua laki-laki bertarung saling berusaha melakukan gerakan menyerang serta menangkis sambil  menggoreskan gepokan pandan ke tubuh lawan. Kalau dipikir-pikir adegan ini tergolong berbahaya...kebayang gak, saat duri-duri pandan tersebut menancap pada tubuh lalu digoreskan, perih dan sakit karena luka yang diakibatkannya. Namun di akhir permainan tidak ada rasa dendam, tidak ada kata menang ataupun kalah, hati mereka damai tanpa permusuhan, karena ini sebuah ritual penghormatan kepada dewa Indra, serta dipercaya sebagai Dewa perang saat mengalahkan raja lalim Mayadenawa.


Mekare-kare atau perang Pandan hanya ada di Desa Tenganan. Desa Tradisional ini menggelar tradisi unik ini dengan tujuan penghormatan Dewa Indra sebagai Dewa Perang yang memimpin pasukan Kahyangan melawan Raja Mayadenawa. Kisah pertempuran ini menjadi legenda atau mitologi yang diyakini kebenarannya. walaupun bukti-bukti otentik masih samar tapi keyakinan masyarakat tentang legenda ini memunculkan tradisi unik

       Ritual ini mereka gelar setiap tahun pada sasih (bulan) ke-5 saat Hari Raya Sambah, diperingatinya dewa Perang saat Dewa Indra turun ke Maya Pada. Sebagai kebutuhan oleh-oleh, hasil kerajinan setempat terkenal dan mempunyai nilai seni tinggi adalah kain gringsing, merupakan salah satu ciri khas hasil kerajinan masyarakat Tenganan. Event ini menjadi tontonan yang menarik bagi wisatwan lokal maupun asing.

0 komentar:

Posting Komentar